Hai. Apa kabar? Sudah lama tak bejumpa bukan? Saya
kembali lagi. Namun, tak seperti hari-hari kemarin saat saya dan hati saya
mengharapkan kamu. Bisa dibilang ini mungkin ucapan terimakasih saya karena
telah membuat saya jatuh cinta yang begitu amat dalam, sampai-sampai saya lupa
dengan siapa saya sebenarnya.
Ini mungkin gak terlalu berarti buat kamu, mau
saya berubah, mau saya jatuh cinta dengan wanita lain, itu semua gak berarti
apa-apa buat kamu. Karena saya bukan siapa-siapa kamu. Dan kamu menganggap saya
gak lebih dari teman. Saya hanyalah seorang teman. Teman yang pernah menganggap
kamu lebih dari seorang teman.
Memotivasi saya untuk menjadi seorang yang
selalu semangat adalah hal yang mungkin gak akan pernah saya lupakan. Kamu mungkin
bertanya “kapan saya pernah memberi motivasi itu ke kamu?” ya, memang kamu gak
pernah memberi motivasi itu ke saya. Namun, dengan cara kamu diam, dengan cara
kamu gak peduli, itu semua membuat saya termotivasi untuk menjadi seorang yang
selalu semangat. Mungkin kamu gak sadar, kamu memiliki peranan yang sangat
besar dibalik mimpi-mimpi saya, di balik cita-cita saya, dan di balik semua
yang saya lakukan. Itulah mengapa kamu sangat berarti di hidup saya.
Namun, perasaan ini gugur terlalu cepat. Jika saya
adalah sebatang pohon, kapan saya akan tumbuh subur bila tak pernah dialiri
air? Kapan saya akan berbuah? Dan sampai kapan saya akan tetap hidup? Saya akan
mati. Terinjak-injak. Terbuang. Menjadi sampah.
Saya bagaikan sampan yang terombang-ambing di
lautan luas. Saya dalam keadaan yang paling sulit. Bermaksud untuk berlabuh ke
pulau yang saya inginkan, namun terjangan ombak dan badai yang ganas membuat
saya berlabuh ke pulau yang lain.
Saya gak pernah mengharapkan ini sebelumnya,
namun semua ini terjadi begitu saja. Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba hati
saya memilih wanita lain. Mungkin kamu bahagia karena temanmu yang satu ini gak ngejar-ngejar kamu lagi. Mungkin juga ini mimpi terindah kamu.
Terimakasih telah menjadi penyemangat saya
selama ini.